Gubernur Edy Rahmayadi Akan Pecat Ribuan Honorer untuk Hemat Rp 120 Miliar

Rabu, 19 Juni 2019 | 15:50 WIB
KOMPAS.com/MEI LEANDHA Gubernur Sumut Edy Rahmayadi akan memberhentikan ribuan tenaga honorer di lingkungan kerja Pemerintah Provinsi Sumut, Rabu (19/6/2019)

MEDAN, KOMPAS.com - Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi sudah mewacanakan akan memberhentikan ribuan tenaga honorer di lingkungan kerja Pemerintah Provinsi Sumut.

Bahkan dia mengaku sudah membentuk tim evaluasi untuk menjalankan kebijakan ini. Tim inilah yang nantinya akan mengeluarkan rekomendasi para honorer akan diberhentikan atau tidak.

Ditanya progres kerja tim evaluasi honorer apakah sudah ada memberikan nama-nama untuk dilakukan pemecatan, Edy malah balik bertanya.

"Honorer, kok pemecatan...?" kata Edy kepada Kompas.com di kantor gubernur, Rabu (19/6/2019).

Baca juga: Pegawai Honorer Ditemukan Tewas Gantung Diri Dibelakang Rumah Sekretaris DPRD

Dia menjelaskan, jumlah pegawai honorer di Pemprov Sumut jumlahnya 4.800 orang. Diasumsikan 800 honorer dianggap bekerja sesuai kapasitasnya seperti supir hingga pemain keyboard karena di ASN tidak ada mengajarkan profesi ini.

"Mereka spesial, kita butuh, katakanlah kita butuh 200 orang pemain keyboard plus supir dan ahli informas teknologi (IT). Ahli IT yang benar, ya... Kalau hanya sekedar bisa mengetik, ngapain orang, saya aja yang ngetik." 

Kemudian, ada 4.000 honorer yang dianggap tidak bekerja. Jika dihitung-hitung gajinya, 4.000 orang dikali Rp 2,5 juta, dalam sebulan sudah Rp 10 miliar. Setahun berarti Rp 120 miliar. 

Menurut Edy, jumlah Rp 120 miliar itu kalau dibelikan sapi perah akan menghasilkan uang sebanyak Rp 9 juta sampai Rp 10 juta tiap ekornya. Dalam setahun, sapi-sapi tersebut bisa disebarkan ke kabupaten dan kota di Sumatera Utara.

"Susunya kita peras, anak sekolah itu kita suruh baris minumin susu. 30 tahun yang akan datang, orang-orang di sini, jago-jago semua," ucapnya.

Baca juga: Polisi Gerebek 3 Oknum ASN, 1 Honorer dan Karyawan Swasta yang Sedang Pesta Sabu

Artinya, di 2019 ada 800 honorer yang akan putus kontrak kerjanya. Awalnya Edy langsung mengangguk dan mengatakan iya, namun cepat dianulir dengan mengatakan akan mencicilnya.

"Dicicil lah, dicicil ya... Pastinya 2020 saya berharap tidak ada lagi (honorer), ini-kan uang rakyat yang harus kita pertanggungjawabkan," ucapnya.

Edy enggan menjawab pertanyaan jika membludaknya tenaga honorer diduga akibat rekrutmen para Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) yang memanfaatkan kekuasaannya. 

"Pasti Anda sudah tahu, saya tak jawab itu," katanya. 

"Setahu saya, begitu banyak pegawai di Pemprov ini, ASN-nya saja 28.000. Ini banyak sekali, saya sudah perintahkan Pak Wagub agar dievaluasi, apakah harus segitu. Ada yang bilang saya tidak punya kasihan karena membuat mereka pengangguran. Lebih kasihan lagi 14,6 juta rakyat kita yang butuh perhatian." 

Baca juga: Dituduh Punya Ilmu Hitam, Guru Honorer Dibunuh secara Sadis

Kompas.com juga menanyakan soal kemampuan khusus yang harus dimiliki para honorer agar tetap dipekerjakan, apakah juga diberlakukan kepada ASN yang baru diberikan SK-nya? 

"Ada baterai-baterai yang harus dimiliki untuk mengawaki organisasi yang ada di Pemprov ini. Saya mau ke depan ini benar-benar, tidak main-main, dia bisa apa, itulah dia kerja," jawab Edy.

Jongos ASN

Staf Biro Humas dan Keprotokolan Pemprov Sumut Parada Siregar menilai keputusan Edy Rahmayadi memecat ribuan pegawai honorer sudah tepat, terutama untuk efisiensi anggaran.

Parada sendiri pada Agustus 2019 nanti genap setahun bekerja sebagai tenaga honorer

Menurut dia, uang yang selama ini digunakan untuk membayar gaji honorer bisa dimanfaatkan untuk membangun Sumut, sebab apapun alasannya kemajuan Sumut adalah prioritas utama.

Selain itu, keputusan ini juga diambil karena gubernur melihat ketimpangan pekerjaan antara ASN dan honorer.

"Intinya honorer tak perlu takut selama punya kemampuan dan skill, Insya Allah rezeki itu bisa dicari dari mana saja karena di era milenial seperti saat ini yang paling penting inovatif," kata Parada.

Baca juga: PNS Riau Diminta Sisihkan Gajinya agar Pegawai Honorer Dapat THR

Parada kemudian memberikan contoh ketimpangan pekerjaan antara ASN dan honorer. Misal, banyak tugas administrasi yang sebenarnya bisa dilakukan para ASN.

Nah, kalau dipekerjakan honorer untuk mengerjakan sesuatu yang bisa dilakukan, menurutnya menyia-nyiakan anggaran padahal masih banyak rakyat Sumut yang butuh makan.

"Intinya aku mendukung pemecatan ini dan mengharapkan semua ASN bekerja berdasarkan skill. Biar enggak ada ASN makan gaji buta, atau angkat honorer jadi ASN biar enggak mandeg kerjanya lagi. Honorer ini kayak jongos ASN yang sebenarnya ASN-lah yang mengerjakan itu," katanya tertawa.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sumut Abdullah Khair Harahap mengatakan, jumlah ASN di Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Sumut saat ini sebanyak 406 orang. Ditambah di BKD ada 110 orang, sehinga total 516 ASN.

Sementara untuk seluruh Sumut ada 27.000 ASN. Jumlah Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 Pemprov Sumut yang sudah mendapat Surat Keputusan (SK) Pengangkatan sebanyak 1.028 orang dengan rincian, tenaga guru 701 orang, tenaga kesehatan 228 orang, dan tenaga teknis 99 orang.

"Dibanding tahun lalu, penegasan soal pemotongan tunjangan kinerja (tukin) sudah lebih jelas dan berlaku sejak Januari 2019. Sebelumnya masih taraf uji coba. Jadi, gak ada ampun lagi, kalau tidak mau berkurang tukin kita, kerjalah lebih baik dan hadir tepat waktu, cepat datang..." kata Khair.



Agenda Pemilu 2019

  • 20 September 2018

    Penetapan dan pengumuman pasangan calon presiden-wakil presiden

  • 21 September 2018

    Penetapan nomor urut pasangan calon presiden-wakil presiden

  • 21-23 September 2018

    Pengumuman Daftar Calon Tetap (DCT) Anggota DPD, DPR, dan DPRD provinsi

  • 24 September-5 Oktober 2018

    Penyelesaian sengketa dan putusan

  • 8-12 Oktober 2018

    Pengajuan gugatan atas sengketa tata usaha negara

  • 23 September 2018-13 April 2019

    Kampanye pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, penyebaran bahan kampanye kepada umum, dan pemasangan alat peraga

  • 24 Maret 2019-13 April 2019

    Kampanye rapat umum dan iklan media massa cetak dan elektronik

  • 28 Agustus 2018-17 April 2019

    Pengumuman Daftar Pemilih Tetap (DPT)

  • 14-16 April 2019

    Masa Tenang

  • 17 April

    Pemungutan suara

  • 19 April-2 Mei 2019

    Rekapitulasi dan penetapan hasil tingkat kecamatan

  • 22 April-7 Mei 2019

    Rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara tingkat kabupaten/kota

  • 23 April-9 Mei 2019

    Rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara tingkat provinsi

  • 25 April-22 Mei 2019

    Rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara tingkat nasional

  • 23-25 Mei 2019

    Pengajuan permohonan sengketa di Mahkamah Konstitusi

  • 26 Mei-8 Juni 2019

    Penyelesaian sengketa dan putusan

  • 9-15 Juni 2019

    Pelaksanaan putusan MK oleh KPU

  • Juli-September 2019

    Peresmian keanggotan DPRD Kabupaten/kota, DPRD Provinsi, DPR dan DPD

  • Agustus-Oktober 2019

    Pengucapan sumpah/janji anggota DPRD Kabupaten/kota dan DPRD Provinsi

  • 1 Oktober 2019

    Pengucapan sumpah/janji anggota DPR

  • 20 Oktober 2019

    Sumpah janji pelantikan presiden dan wakil presiden