"Video Call" dengan TKI Parinah yang 14 Tahun Hilang lalu Ditemukan di Inggris (2)

Selasa, 10 April 2018 | 11:49 WIB
KOMPAS.com/Iqbal Fahmi Parsin (33), warga RT 001 RW 003 Grumbul Glempang, Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan foto dan surat dari ibunya, Parinah (50), TKI yang diduga menjadi korban tindak pidana perbudakan modern di Inggris.

BANYUMAS, KOMPAS.com - Senyum Parinah (50) mengembang ketika panggilan video dari ponsel putranya, Parsin (33), tersambung, Senin (9/4/2018) sore.

Tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Banyumas, Jawa Tengah, ini masih berada di London, Inggris, dan akan segera dipulangkan.

“Alhamdulillah sehat, kemarin-kemarin sering rontgen, tapi sekarang sehat,” katanya setelah menjelaskan sempat sering merasa nyeri di bagian pinggul.

Parinah baru saja dibebaskan dari rumah majikannya di Brighton, Inggris, setelah diduga mengalami perbudakan karena dipekerjakan tanpa dibayar selama belasan tahun. Proses evakuasi Parinah dilakukan oleh kepolisian setempat berdasarkan koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London.

(Baca selengkapnya: Kisah TKI Parinah 14 Tahun Tak Ada Kabar, Kerja Tak Dibayar di Inggris (1))

Parinah mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk keluarga berkebangsaan Mesir di Arab Saudi bernama Alaa M Ali Abdallah pada tahun 1999. Dia masih rajin berkirim surat ke keluarga.

Dia lalu bak hilang ditelan bumi setelah sekitar tahun 2004 dibawa oleh majikannya pindah ke Inggris.

Selama hampir 19 tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga di Arab dan London, Parinah mengaku diperlakukan dengan baik oleh majikannya.

Namun, dia mengaku tidak diberi upah dengan layak dan tidak diperkenankan pulang atau berhubungan dengan keluarganya di Indonesia.

“Orangnya baik (majikan), tidak pernah diperlakukan kasar, tapi saya tidak boleh pulang, gaji tidak diberi, dan paspor ditahan sampai kedaluwarsa, tidak boleh diperbaharui. Kalau keluar rumah saja harus sama anaknya (majikan),” tuturnya.

“Gaji tidak dibayar selama di Inggris, cuma dikasih uang 1.000 poundsterling, tapi dulu sekali sudah lama. Setelah itu tidak pernah menerima lagi,” lanjtu Parinah kemudian.

Parinah sendiri acap kali menanyakan gaji kepada majikannya. Namun, setiap dia bertanya, majikannya selalu berkelit dan hanya menjanjikan akan dibayarkan ketika Parinah pulang.

“Jangan diambil sekarang, nanti kamu tidak punya pegangan kalo sudah tua,” kata Parinah menirukan jawaban majikannya.

(Baca juga: 14 Tahun Hilang Tanpa Kabar, TKI Parinah Ditemukan di Inggris)

Parinah mengaku dijemput oleh kepolisian di Brighton, Sussex, di rumah majikannya pada 5 April 2018. Saat ini, dia ditampung oleh KBRI London.

“Majikan saya sudah ditahan semua. Empat orang, suami, istri dan dua anaknya,” ungkapnya.

Rencananya, Parinah akan dipulangkan ke Tanah Air pada hari ini, Selasa (10/4/2018).

Meskipun cita-cita Parinah untuk pulang ke kampung halaman akhirnya terwujud, namun dia masih menyimpan harap bahwa semua haknya selama 19 tahun bekerja sebagai TKI segera dilunasi.

“Senang (pulang ke Indonesia), tapi sedih tidak punya uang kalo pulang,” ujarnya.

Menanti

Sebelum kembali bertatap muka dengan sang ibu lewat ponsel, Parsin sempat bercerita tentang penantian mereka mencari sang ibu.

“Ibu berangkat ke Arab tahun 1999, tahun 2004 ibu pindah ke Inggris ikut majikannya, sampai sekarang (2018) belum pernah pulang,” ungkap Parsin.

“Saya dan keluarga bingung mencari kabar ibu, semua teman-teman sudah putus komunikasi, (agen) penyalur TKI yang memberangkatkan juga tidak tahu. Pernah coba telepon nomor yang ditulis di surat, tapi tidak jelas bicara apa langsung dimatikan,” tambahnya kemudian.

(Baca juga: AHY Dapat Voucer Makan Gratis Markobar Sepanjang Masa dari Gibran)

Setelah lelah menunggu karena tak tahu harus melapor ke mana, dia dan adiknya datang melapor ke Badan Pos Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP4TKI) Cilacap pada Januari 2018.

Kemudian, barulah ada titik terang tentang keberadaan sang ibu.

 

Bersambung: Asa Keluarga 14 Tahun Menanti TKI Parinah yang Hilang Tanpa Kabar (3)

 

Agenda Pemilu 2019

  • 20 September 2018

    Penetapan dan pengumuman pasangan calon presiden-wakil presiden

  • 21 September 2018

    Penetapan nomor urut pasangan calon presiden-wakil presiden

  • 21-23 September 2018

    Pengumuman Daftar Calon Tetap (DCT) Anggota DPD, DPR, dan DPRD provinsi

  • 24 September-5 Oktober 2018

    Penyelesaian sengketa dan putusan

  • 8-12 Oktober 2018

    Pengajuan gugatan atas sengketa tata usaha negara

  • 23 September 2018-13 April 2019

    Kampanye pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, penyebaran bahan kampanye kepada umum, dan pemasangan alat peraga

  • 24 Maret 2019-13 April 2019

    Kampanye rapat umum dan iklan media massa cetak dan elektronik

  • 28 Agustus 2018-17 April 2019

    Pengumuman Daftar Pemilih Tetap (DPT)

  • 14-16 April 2019

    Masa Tenang

  • 17 April

    Pemungutan suara

  • 19 April-2 Mei 2019

    Rekapitulasi dan penetapan hasil tingkat kecamatan

  • 22 April-7 Mei 2019

    Rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara tingkat kabupaten/kota

  • 23 April-9 Mei 2019

    Rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara tingkat provinsi

  • 25 April-22 Mei 2019

    Rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara tingkat nasional

  • 23-25 Mei 2019

    Pengajuan permohonan sengketa di Mahkamah Konstitusi

  • 26 Mei-8 Juni 2019

    Penyelesaian sengketa dan putusan

  • 9-15 Juni 2019

    Pelaksanaan putusan MK oleh KPU

  • Juli-September 2019

    Peresmian keanggotan DPRD Kabupaten/kota, DPRD Provinsi, DPR dan DPD

  • Agustus-Oktober 2019

    Pengucapan sumpah/janji anggota DPRD Kabupaten/kota dan DPRD Provinsi

  • 1 Oktober 2019

    Pengucapan sumpah/janji anggota DPR

  • 20 Oktober 2019

    Sumpah janji pelantikan presiden dan wakil presiden